Tangguh, Konsep dalam Dunia Perkerisan yang Mewakili Zaman dan Gaya

Istilah “tangguh” dalam dunia perkerisan Jawa berasal dari kata “tak sengguh” yang berarti perkiraan. Haryono Haryoguritno menjelaskan bahwa tangguh merujuk pada perkiraan tentang zaman pembuatan, periode sejarah, dan pembuat dari sebilah keris. Definisi ini diperkuat oleh Bambang Harsrinuksmo, yang menekankan bahwa tangguh tidak hanya sekadar perkiraan, tetapi juga mencakup penilaian terhadap gaya regional dan periode sejarah di mana keris atau tombak tersebut dibuat.

Doc: MATA(Narwan.R)

Berdasarkan pengamatan ahli perkerisan, seperti Unggul Sudrajat, tangguh melibatkan identifikasi zaman dan asal-usul keris berdasarkan karakteristik fisiknya. Ini termasuk analisis bahan besi, pamor, dan baja yang digunakan. Proses pengamatan ini memungkinkan para ahli untuk menafsirkan dan memperkirakan asal-usul keris serta umurnya. Unsur-unsur penting seperti bentuk, pamor, dan jenis logam yang terkandung dalam bilah keris sangat penting dalam menentukan tangguh sebuah keris, sebagaimana disebutkan dalam Serat Centhini.

Tangguh juga sering kali dikaitkan dengan eksistensi pemerintahan kerajaan tempat keris tersebut dibuat. Misalnya, “tangguh Surakarta” atau “Nom-noman” menandakan bahwa keris itu berasal dari era atau wilayah tertentu, seperti Surakarta. Setiap kerajaan besar di Jawa pada masa lalu memiliki empu keris yang bekerja untuk menciptakan keris-keris dengan ciri khas kerajaannya. Seorang raja memiliki kekuasaan penuh atas bentuk dan gaya keris yang dibuat selama masa pemerintahannya, dan hasil karya tersebut dikenal sebagai “tangguh” kerajaan yang bersangkutan.

Kekuasaan raja pada masa itu memengaruhi hampir semua karya seni, termasuk keris. Pada zaman kerajaan, keris sering dianggap sebagai “yasan ndalem” atau karya yang dibuat atas nama raja. Ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh keraton dalam perkembangan budaya keris, di mana raja dianggap sebagai personifikasi Tuhan yang berkuasa. Karya-karya yang dihasilkan oleh empu, sering kali anonim, mencerminkan konsep hegemoni dan kepatuhan terhadap aturan serta nilai-nilai kerajaan, dengan tujuan suci untuk dipersembahkan kepada yang Maha Kuasa.

Kesimpulannya, tangguh bukan hanya sekadar istilah dalam dunia perkerisan, tetapi juga cerminan dari sejarah dan budaya yang mengakar dalam perkembangan peradaban Jawa. Pengaruh kekuasaan kerajaan sangat kuat dalam setiap proses pembuatan keris, dan warisan budaya ini tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya bangsa Indonesia. Dengan pemahaman mendalam tentang tangguh, kita dapat menghargai keris tidak hanya sebagai senjata, tetapi juga sebagai simbol sejarah, kekuasaan, dan seni yang adiluhung.
<Red/Narwan. R>

editorMATA
Author: editorMATA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian