Ternak Babi menjadi Langka di Tana Toraja Akibat Penanggulangan Penyakit Ternak Tersebut Yang Belum Terlihat

Akibat penyebaran virus Babi ditoraja mengakibatkan ternak ini menjadi sangat sulit didapat dan terus langka,
Pemerintah Tana Toraja tidak berdaya dengan adanya penyakit ternak babi,bahkan selama penyebaran virus babi ditoraja tak ada gerakan usaha pemerintah mencari solusi dalam menanggulangi penyakit ternak tersebut.

Begitu juga dengan kebutuhan babi di Tana Toraja sangat tinggi dan tidak seimbang dengan produksi peternakan dengan kebutuhan sehingga harga babi sangat tinggi dan terus mengalami kenaikan.

Harga babi ditoraja dengan ukuran satu meter yang biasanya seharga Rp 4juta rupiah kini di bandrol 6 sampai Rp 7juta bahkan sangat sulit didapatkan karena tidak seimbang dengan ketersediaan dan kebutuhan.

Menurut pantauan kami bahwa jika kedepan tidak ada reaksi pemerintah maka harga akan terus meningkat tajam ini karena keterkaitan budaya Tana Toraja yang doyan selalu melakukan prosesi adat istiadat yang disebut rambu tuka’ jika ucapan syukur dan rambu solo’ jika kedukaan,terlebih dalam menghadapi bulan November – Desember sebagai bulan pusat kegiatan prosesi adat istiadat.

Dalam proses prosesi adat istiadat kegiatan identik dengan pemotongan babi dan itu juga harus utuh dalam lokasi kegiatan bukan berbentuk daging sehingga kebutuhan terus akan meningkat.

Darmi salah satu peternak rumahan mengatakan kita ketakutan meningkat jumlah ternak karena taku penyakit yang datang secara tiba-tiba menyerang dan tidak ada ampu,apa lagi pemerintah tidak ada tindakan atau perhatian kepada kami bahkan sejak virus ini mewabah belum pernah saya dengar ada tindakan pemerintah mengenai penyakit ternak ini. Apakah pemerintah tidak perduli atau memang kami dibiarkan tidak memelihara lagi, ujarnya.
<Red/Yanto>

editorMATA
Author: editorMATA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian