Keluhan masyarakat hulu Sungkai Lampung Utara atas ketidak setabilan harga singkong

Pak Adi, petani singkong di Lampung Utara saat menceritakan turunnya harga singkong.
Sejumlah petani singkong di Lampung Utara mengeluhkan harga jual yang kian murah.
Para petani mengaku omzet penjualan singkong saat ini hanya bisa digunakan untuk modal tanam selanjutnya.
Pak Adi, petani singkong asal Kecamatan Hulu Sungkai, Lampung Utara mengatakan, saat ini harga singkong Rp 1.070 dengan potongan 20 % per kilogram dikurangi ongkos mobil dan kuli
Dengan harga jual tersebut, pak Adi hanya bisa membawa pulang keuntungan bersih Rp 500-600 rupiah per kilogram.
Pak Adi, petani singkong di Lampung Utara saat menceritakan turunnya harga singkong.
Padahal, kata dia, Tahun lalu dia bisa mendapat keuntungan bersih Rp 1.000 rupiah per kilogram dan petani bisa menyisihkan uang untuk kebutuhan rumah tangga dan lain-lain.
Namun harga itu tidak bertahan lama.
Pak Adi pun harus rela singkongnya dipanen saat musim harga murah.
Ia mengharapkan kestabilan harga singkong untuk skala petani.
Sebab, kata dia, dengan perolehan keuntungan sedikit, dia harus bertahan hidup sambil menyiapkan siklus tanam singkong berikutnya.
Terlebih, petani singkong adalah pengguna pupuk non subsidi.
“Yang jelas pupuk, kami pakai non subsidi dan kalau pemupukan minimal 8-9 bulan. Selain soal uang, kita juga kadang nggak kebagian pupuk, bahkan untuk pupuk non subsidi kita kehabisan,” kata dia.
Harapan besar masyarakat Lampung khususnya Lampung Utara kecamatan Hulu Sungkai mendapat perhatian dari pihak perusahaan, pemerintah daerah, provinsi, pusat dan pak Prabowo selaku presiden Republik Indonesia agar kiranya bisa memperhatikan para petani khususnya petani singkong.
<Red/Erwin Saputra>

editorMATA
Author: editorMATA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian