Bittuang, Tana Toraja Sul-Sel-Media Adipati Nusantara. — Siswa kelas VIII SMP Negeri Satu Atap 2 Bittuang sukses mengembangkan teks pidato persuasif dengan mengangkat nilai-nilai dari tagline kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Tana Toraja, “Masero”. Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran Bahasa Indonesia yang berujung pada pembuatan portofolio siswa pada Rabu, 10 April yang lalu.

Tagline “Masero”, singkatan dari Maju Mandiri, Aman, Sehat Sejahtera, Ekologis, Religius, dan Optimis, dijadikan sumber inspirasi oleh siswa dalam menyusun pidato yang mengandung pesan ajakan positif. Dalam proses pembelajaran, siswa tidak hanya diminta menulis pidato, tetapi juga mendiskusikan makna dari tiap kata dalam “Masero”, mengaitkannya dengan kehidupan nyata di lingkungan mereka, hingga menghasilkan sebuah karya.
Hasilnya, para siswa menulis dan menyampaikan pidato yang menyentuh isu-isu lokal seperti judul berikut: Meningkatkan Kualitas Hidup Masyarakat Lembang Burasia, Hijaukan Lingkungan di Lembang Se’seng, Pentingnya Menjaga Kesehatan Tubuh, Semangat belajar mandiri, Membangun Rohani, serta Optimisme dalam Menggapai Cita-Cita. Aktivitas ini merupakan capaian pembelajaran yang tidak hanya harus dicapai, namun juga latihan untuk membentuk kepercayaan diri siswa agar kelak mereka dapat berbicara di depan umum dan menumbuhkan kepedulian terhadap potensi dan tantangan yang akan dihadapi di sekitar mereka.
Guru Bahasa Indonesia SMPN Satap 2 Bittuang, Sumartoyo, S.Pd., M.Si., mengungkapkan kebanggaannya terhadap hasil karya siswa. “Saya bangga melihat siswa kami mampu memaknai tagline daerah menjadi pesan yang bermakna dan menginspirasi. Ini menunjukkan bahwa literasi lokal bisa menjadi bahan pembelajaran yang kuat dalam membentuk karakter dan kemampuan berbicara di depan umum,” ujarnya.
Lebih lanjut, Aktifis dan Pengurus DPP AGUPENA ini juga menyampaikan pesan penting kepada para guru Bahasa Indonesia lainnya agar mampu mengontekstualisasikan pembelajaran dengan potensi lokal. “Kurikulum sekarang sudah sangat fleksibel. Guru harus mampu menyesuaikan kompetensinya dengan berbagai perubahan yang sedang terjadi, termasuk menggali nilai-nilai lokal sebagai sumber belajar yang dekat dengan kehidupan anak. Ini akan membantu siswa tidak hanya mahir berbahasa, tetapi juga memahami dan mencintai lingkungannya,” tutupnya.
<Red/Yanto>
