MATA-Depok. Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, PWI Depok bersama Forum Indonesia Emas dan Optik Sejahtera, gelar Lomba Puisi tingkat Pelajar di Depok.
Hasil pemenang lomba puisi tersebut diumumkan di kantor PWI Depok, Jl. Melati Raya, Rabu (12/11/2025).
Pemenang lomba dibacakan langsung oleh Adi Rakasiwi, Bidang Seni PWI Depok, sebagai berikut:
Juara I : Aliza Cantika Ariana, SMPN 2 Depok.
Juara II : M. Fajar Putra Ramadan, SMP TQT Maninatul Quran Depok.
Juara III : Raihan Syahputra, SMAN 9 Depok
Juara IV : Elok Permataputri, SMPN 32 Depok.
Dalam sambutannya, Ketua PWI Depok, Rusdy Nurdiansyah menyampaikan bahwa ini adalah kali kedua PWI menyelenggarakan lomba puisi setelah di hari Sumpah Pemuda beberapa waktu yang lalu.
“Saya berharap program ini terus berlanjut, sehingga mampu meningkatkan literasi pelajar baik SD, SMP maupun SMA. Ini momen untuk kembali ke marwah menulis dengan berbahasa yang kritis dan santun”, tuturnya.
Ia juga berharap kemampuan menulis para pelajar bisa ditingkatkan.
“Menulis itu jembatan untuk menambah wawasan. Dengan membaca banyak informasi, maka kita akan pandai berbicara dan akan dikenal orang, serta dalam menulis akan menjadi lebih bermakna”, terang Rusdy.
Sedangkan, Ketua Harian Forum Indonesia Emas, Deny Romel menyampaikan rasa syukur kegiatan ini dapat dilaksanakan secara cepat dan tepat.
Ia juga menjelaskan, Forum Indonesia Emas merupakan suatu grup instagram (IG) yang memberikan literasi dan edukasi program pemerintah khususnya Makan Bbetgizi Gratis (MBG).
“Dengan adanya kegiatan lomba puisi ini, selain dapat memberikan informasi tentang MBG kepada anak-anak, juga sebagai bentuk rasa syukur kepada pemerintah”, jelas Deny.
Dalam kesempatan tersebut, hadir pula Wakil Ketua DPRD kota Depok, Yeti Wulandari.
Ia mengucapkan selamat kepada para pemenang dan berharap potensi ini bisa terus digali serta bisa lebih ditingkatkan.
‘Sampai dengan hari ini, di kota Depok sudah terbentuk 80 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dengan jumlah penerima manfaat sebesar 216.409 siswa”, jelasnya.
Ia menambahkan bahwa, memang masih dibutuhkan evalusi dan masukan agar program MBG bisa tepat sasaran dan berhasil guna.
“Jepang butuh 20 tahun baru bisa ‘settle’ setelah mengalami berbagai macam evaluasi. Brasil 15 tahun, India 15 tahun. Sedangkan Indonesia baru berjalan dalam hitungan bulan”, paparnya membandingkan pelaksanaan MBG di Indonesia dengan negara lain.
Yeti menambahkan bahwa Indonesia sudah ketinggalan dibandingkan Vietnam yang 5 (lima) tahun lalu baru berproses untuk menjadi negara berkembang.
“Bagaimana SDM bisa meningkat kalau gizi jauh tertinggal. Bagaimana bisa fokus untuk belajar, bisa tumbuh dan berkembang, intelegensinya hebat kalau gizinya kurang”, terangnya.
Ia menyampaikan bahwa, Bapak Presiden Prabowo berharap pada 2045 bonus demografi tidak menjadi beban, sehingga Indonesia bisa menjadi salah satu negara adidaya di dunia.
“Bonus demografi ibarat pisau bermata dua. Akan menjadi beban jika tidak mampu mengelolanya, karena akan banyak pengangguran. Namun jika mampu dikelola, akan menjadi modal potensi SDM yang luar biasa. Itulah salah satu tujuan dari MBG”, pungkas Yeti Wulandari.
<Red/Galih>
