Cuaca Ekstrem di Lebak dan Sukabumi, Korban Tewas dan Dampak Bencana Meluas

Media Adipati Nusantara_ Jakarta, 8 Desember 2024 – Cuaca ekstrem yang melanda Kabupaten Lebak, Banten sejak 3 Desember 2024 lalu telah menyebabkan tiga korban jiwa, serta kerusakan infrastruktur dan pemukiman di beberapa kecamatan. Bencana hidrometeorologi berupa hujan deras, banjir, dan longsor mengakibatkan banyak daerah terendam banjir dan beberapa jalan terputus.

Jalan Terputus Akibat Longsor Pasca Banjir Bandang di Desa Lebak Gedong, Lebak, Banten. Sumber Doc: ANTARA

Data terbaru dari BPBD Lebak mencatat, tiga orang tewas akibat bencana alam yang melanda wilayah tersebut. Korban tewas adalah Diva Ajahro (14), yang tertimpa longsor di Kecamatan Cipanas, Dimas (13), yang tenggelam saat banjir di Kecamatan Banjarsari, dan Rosi (64), yang tertimpa pohon saat hendak pulang dari kebunnya di Kecamatan Cibebar. Ketiga korban meninggal ini merupakan bagian dari dampak bencana yang terjadi di Kabupaten Lebak dalam beberapa hari terakhir.

“Penyebab utama cuaca ekstrem ini adalah hujan deras yang terus mengguyur wilayah Lebak sejak awal bulan. Kami mengimbau warga untuk tetap waspada, mengingat potensi bencana lanjutan yang masih ada,” ujar Kepala BPBD Lebak, Ahmad Hidayat.

Selain korban jiwa, banjir juga menyebabkan puluhan rumah terendam dan merusak infrastruktur. Sebanyak 22 kecamatan di Kabupaten Lebak terdampak, dengan 1.694 rumah tergenang banjir, serta 29 titik infrastruktur rusak. Sementara itu, salah satu peristiwa dramatis terjadi ketika seorang ibu hamil bernama Arsia (34) harus diselamatkan oleh petugas gabungan menggunakan perahu karet untuk melahirkan di Puskesmas setelah terjebak banjir. Proses evakuasi dan persalinan berhasil dilakukan dengan operasi caesar pada pukul 21.30, meskipun sebelumnya Arsia harus menempuh perjalanan selama dua jam menyusuri sungai.

Sementara itu, di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, banjir bandang juga menyebabkan kerusakan besar. Salah satu peristiwa tragis adalah ditemukannya sebuah mobil minibus yang tersangkut di tengah Sungai Cikaso, Kampung Parungsea, Desa Curuk Luhur, Sagaranten. Proses evakuasi mobil yang terbalik dan tersangkut di batu besar ini sempat terhambat oleh derasnya arus sungai, namun berhasil dilakukan setelah lebih dari satu jam.

Cuaca ekstrem juga menyebabkan pergerakan tanah yang mengancam infrastruktur. Di Kampung Cisagu, Desa Mekarsari, Kecamatan Sagaranten, jalan penghubung antar kecamatan ambles sedalam 4 meter dan sepanjang 500 meter. Kondisi ini memutus akses menuju Kalibunder dan Jampang Kulon. Kendati demikian, banyak pengendara nekat melintas, karena jalan ini merupakan akses utama bagi warga.

Sementara itu, di Cianjur, Jawa Barat, hujan lebat juga menyebabkan kerusakan rumah. Sebanyak 74 rumah di 12 desa di Kecamatan Tanggung dan sekitarnya rusak parah akibat longsor dan banjir. Warga yang terdampak telah mengungsi ke rumah kerabat dan tempat-tempat pengungsian sementara.

Di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, sekitar 700 rumah terendam banjir akibat meluapnya Sungai Ciarem. Banjir yang terjadi sejak Kamis lalu ini masih belum surut, meskipun warga telah mendapatkan bantuan darurat.

BMKG telah mengeluarkan peringatan dini terkait cuaca ekstrem yang masih berlangsung, dengan potensi hujan lebat yang dapat menyebabkan banjir dan longsor di sejumlah wilayah. Masyarakat di daerah rawan bencana diminta untuk selalu waspada dan mengikuti informasi terbaru dari pihak berwenang.

Pemerintah daerah setempat bekerja sama dengan berbagai instansi terkait untuk melakukan upaya pemulihan pasca bencana, termasuk evakuasi korban, pembersihan material longsor, serta perbaikan infrastruktur yang rusak. BPBD dan pihak terkait juga terus memberikan bantuan kepada warga yang terdampak bencana.

Bencana cuaca ekstrem yang melanda wilayah Lebak, Sukabumi, Cianjur, dan beberapa daerah lainnya mengingatkan kita akan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi bencana alam. Masyarakat di daerah rawan bencana diimbau untuk selalu siap siaga, sementara pemerintah dan lembaga terkait terus berupaya melakukan pemulihan dan mitigasi bencana agar dampaknya dapat diminimalisir.
<Red/Narwan. R>

EditorMATA-SK
Author: EditorMATA-SK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian