Media Adipati Jakarta, 11 Desember 2024 – Penanganan bencana longsor dan pergerakan tanah yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, terus menjadi perhatian serius dari pemerintah daerah dan berbagai pihak terkait. Berdasarkan data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), sedikitnya 2.988 jiwa dari 913 Kepala Keluarga (KK) terdampak dan kini mengungsi di berbagai lokasi pengungsian.
Proses pencarian dua korban yang tertimbun longsor di Kecamatan Pabuaran dan Tegal Belut telah dihentikan pada hari ketujuh, sesuai dengan prosedur standar dari Basarnas. Kondisi medan yang sulit, ditambah dengan luasnya area longsoran, menyebabkan peluang menemukan korban dalam keadaan selamat sangat minim.
Kepala Pos SAR Sukabumi menjelaskan bahwa keputusan penghentian pencarian ini telah dikomunikasikan kepada pihak keluarga korban. Keluarga telah menerima dengan ikhlas keputusan tersebut. Meski demikian, pemantauan di sekitar lokasi longsor akan tetap dilakukan oleh tim gabungan, dan jika ditemukan tanda-tanda keberadaan korban, proses evakuasi akan dilanjutkan.
“Pemantauan dilakukan secara berkala oleh petugas dan relawan. Jika ada laporan warga tentang tanda-tanda keberadaan korban, kami siap melakukan tindakan evakuasi kembali,” ujar Kepala Pos SAR Sukabumi.
Penyaluran bantuan bagi para pengungsi terus diintensifkan. Upaya distribusi sempat terkendala oleh akses jalan yang tertutup longsor, namun alat berat telah dikerahkan untuk membuka jalur-jalur utama. Saat ini, bantuan berupa makanan siap saji, pakaian, obat-obatan, dan perlengkapan kebutuhan dasar lainnya mulai menjangkau pengungsian di beberapa desa terdampak.
Dapur umum telah didirikan di lokasi pengungsian oleh Kementerian Sosial dan berbagai organisasi kemanusiaan. Tim gabungan dari TNI, Polri, BPBD, serta relawan lokal bekerja bahu-membahu untuk memastikan kebutuhan dasar para pengungsi terpenuhi. Namun, kebutuhan mendesak seperti pakaian pengganti dan perlengkapan kesehatan khusus masih sangat diperlukan, terutama untuk anak-anak, ibu hamil, dan lansia.
Selain longsor, pergerakan tanah menjadi ancaman signifikan di wilayah ini. Di Desa Nyalindung, jumlah rumah terdampak meningkat drastis dari 171 menjadi 210 unit dalam kurun waktu semalam akibat hujan deras yang tak kunjung reda. Pergerakan tanah serupa juga terjadi di Desa Lembur Sawah, Kecamatan Pabuaran, dengan 275 rumah kini dilaporkan mengalami kerusakan berat.
Sebagian besar warga terdampak telah mengungsi ke tenda-tenda darurat yang didirikan di sekitar kantor desa. Namun, beberapa wilayah seperti Desa Sukajaya masih sulit dijangkau akibat jalan yang terputus dan aliran listrik yang belum pulih.
“Kami berharap bantuan segera dapat menjangkau lokasi-lokasi yang sulit diakses. Saat ini tim sedang berupaya membuka akses jalan dengan bantuan alat berat,” ujar Kepala BPBD Sukabumi.
BPBD Sukabumi mengingatkan bahwa potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, longsor, dan pergerakan tanah, masih tinggi mengingat curah hujan yang diprediksi terus meningkat dalam beberapa hari ke depan. Masyarakat yang tinggal di zona rawan bencana diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi arahan evakuasi dari pihak berwenang.
Tim gabungan akan terus bersiaga untuk memberikan bantuan dan melakukan evakuasi jika diperlukan. Selain itu, pemerintah daerah juga merencanakan relokasi bagi warga yang rumahnya tidak lagi layak huni akibat kerusakan parah.
<Red/Narwan. R>
